Baru-baru ini, sebuah video dari siswa SMK di Bogor menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dalam video tersebut, seorang siswa memperlihatkan menu makan siang gratis yang didapatnya dari program pemerintah. Namun, kontroversi muncul ketika ia membandingkan makanannya dengan menu teman lainnya yang dianggap lebih lengkap.
Kejadian Viral: "Kangkung, Semangka, dan Susu"
Siswa SMK tersebut menunjukkan kotak makan berbahan stainless steel berisi nasi, sayur, telur dadar, buah, dan susu. Sambil bersyukur, ia berkata, "Makan gratis dari Pak Prabowo."
Namun, suasana berubah saat ia membandingkan menu miliknya dengan teman di seberangnya. Temannya hanya menerima kangkung, semangka, dan susu, tanpa nasi dan lauk. Hal ini memicu tawa di antara mereka, tetapi juga menimbulkan pertanyaan dari warganet.
Tak lama setelah video viral, pihak sekolah memastikan bahwa kotak makan yang kurang lengkap itu adalah kesalahan teknis. Wakahubinmas SMKN 1 Kota Bogor, Sinta Dewi, menyatakan bahwa dari 1.000 paket makan siang, hanya satu yang mengalami kekurangan.
"Yang kosong itu langsung diganti oleh Badan Gizi Nasional pada hari yang sama," ujar Sinta.
Program Makan Gratis: Uji Coba yang Belum Sempurna
Program makan siang gratis ini merupakan bagian dari uji coba yang baru berjalan di beberapa sekolah, termasuk SMKN 1 Kota Bogor. Setiap hari, siswa menerima makanan lengkap dengan komposisi empat sehat lima sempurna: nasi, lauk, sayur, buah, dan susu.
Namun, uji coba ini belum luput dari kritik. Salah satu perhatian datang dari dr. Dion Haryadi, yang mengulas nilai gizi menu tersebut melalui TikTok.
Sorotan Gizi: Kekurangan Protein dalam Menu
Dr. Dion menyoroti bahwa sumber protein dalam kotak makan, seperti telur dadar dan susu, tidak mencukupi kebutuhan anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
"Telur dadarnya hanya menyumbang sekitar 5 gram protein, dan susunya bukan 100 persen susu sapi," jelasnya. Menurut dia, anak-anak membutuhkan protein lebih banyak dibandingkan karbohidrat atau lemak untuk mendukung pertumbuhan mereka.
Ia pun menyarankan agar porsi protein ditambah, baik melalui lauk utama maupun alternatif lainnya yang terjangkau secara anggaran.
Klarifikasi dan Harapan
Setelah kejadian ini, siswa yang merekam video sudah memberikan klarifikasi. Pihak sekolah juga memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang.
Meski masih tahap uji coba, program makan siang gratis ini memiliki potensi besar untuk mendukung gizi siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, peningkatan pada aspek nutrisi, terutama protein, sangat diperlukan agar manfaatnya lebih optimal.
Pelajaran dari Program Ini
Pentingnya Gizi Seimbang: Anak-anak harus mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk menunjang pertumbuhan.
Transparansi dan Evaluasi: Program makan siang gratis perlu dievaluasi agar dapat memberikan manfaat maksimal tanpa kesalahan teknis.
Kesadaran Nutrisi: Dengan praktik langsung, siswa dapat belajar pentingnya gizi dalam pola makan mereka.
Program makan gratis ini adalah langkah baik dalam mendukung pendidikan dan kesehatan anak bangsa. Namun, kritik membangun seperti ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk penyempurnaan program ke depannya.